Oleh: Terompah | 26 November 2011

Perempuan dan Kekerasan

Kekerasan dalam istilah bahasa adalah perihal yang bersifat keras, paksaan, atau perbuatan yang menyebabkan kerusakan fisik atau mental seseorang. Dalam pengertian lain, kekerasan atau violence merupakan suatu serangan terhadap fisik atau mental seseorang yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan fisik, mental, dan seksual. 

Kekerasan ini umumnya dialami perempuan dan anak. Tapi kebanyakan kasus kekerasan tidak terungkap atau ditindak lanjuti karena dianggap masalah intern keluarga. Dalam catatan Komnas Perempuan, tahun 2005-2006 ada sekitar 22.512 kasus kekerasan. Sedangkan data Komnas Perlindungan Anak, tahun 2006 saja ada 994 kasus kekerasan. 

Jenis-jenis Kekerasan

Tindak kekerasan itu sangatlah beragam. Pertama, kekerasan fisik, seperti memukul, melukai, atau menyakiti badan korban. Ini dampaknya dapat dilihat langsung seperti memar, goresan luka, atau mata bengkak. Kedua, kekerasan psikis atau emosional. Misalnya hinaan, cemoohan, kata-kata kasar yang dampaknya tidak dapat dilihat langsung, tapi menimbulkan gangguan kejiwaan korban. 

Ketiga, kekerasan seksual. Ini sulit dilihat karena terkadang tempat kejadiannya tersembunyi. Kekerasan ini biasanya didahului dengan pelecehan seksual. Contohnya menggoda, menarik perhatian lawan jenis dengan siulan, menunjukkan gambar porno, meraba bagian tubuh sensitif, mencium, memaksa hubungan seksual, sekalipun pada pasangan menikah atau pacaran. 

Keempat, kekerasan ekonomi yang dilatarbelakangi keinginan mendapatkan uang. Contohnya memaksa anak bekerja, memaksa istri melacur, menjual perempuan dan anak, dan tidak memberi nafkah. Kelima, kekerasan sosial, dengan membatasi pergaulan anak atau perempuan di luar rumah, melarang anak bersekolah, atau melarang istri berkegiatan sosial. 

Keenam, kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan ini biasanya dilakukan suami terhadap istrinya, atau majikan terhadap pembantunya (PRT), dan orang tua terhadap anaknya. Misalnya, memaksa hubungan seksual, memukul, menyiksa, mengusir, mengancam untuk menikah lagi atau menceraikan.       

Perempuan, Kekerasan dan Agama

Kekerasan sesungguhnya dapat menimpa siapa saja, laki-laki atau perempuan. Tapi karena budaya masyarakat yang menganggap perempuan lemah, maka merekalah yang sering jadi korban. Sedang laki-laki lebih sering menjadi pelakunya. Padahal Islam mengajarkan hendaklah perempuan dihargai sebagaimana laki-laki. Hadis Nabi saw.:

Orang yang paling baik di antara kamu (laki-laki) adalah yang berbuat baik kepada kaum perempuan”. (HR. Atturmudzi)
Realitasnya, suami-suami yang melakukan pemukulan atau kekerasan sering menggunakan dalih ‘mendidik istri’. Mereka merujuk Alquran: 

Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya”. (QS. Annisa: 34) 

Dari ayat itu, lafadz “fadhribuuhunna” dijadikan dasar suami boleh memukul istri. Padahal tidak demikian halnya. Mereka tidak memperhatikan, “memukul” adalah pilihan terakhir yang bisa diambil. Itu pun tidak serta-merta boleh memukul sembarangan. 

Beberapa ulama menjelaskan, prinsip memukul istri harus berdasarkan aturan “la tadhribul wajha” (jangan memukul wajahnya). Dengan kata lain jangan sampai melukai. Kalau terpaksa memukul, ulama menyarankan menggunakan alat yang paling ringan semacam siwak. Bahkan Imam Syafi’i berpendapat “Pakailah sapu tangan saja”. Tampaknya ini harus dipahami, tradisi ‘memukul istri’ hendaklah dihilangkan sama sekali. Sebab, ini adalah budaya jahiliyah yang tidak menghargai perempuan. Bagi mereka perempuan adalah warisan, hingga tak jarang seorang anak menikahi istri dari bapaknya yang telah meninggal (QS. An Nisaa’: 23). Bahkan memiliki anak perempuan adalah hal memalukan, karenanya bayi perempuan harus dikubur hidup-hidup oleh orang tuanya (QS. An Nahl: 58-59).

Ketika Islam datang, budaya kekerasan dan sikap tidak menghargai perempuan ini mulai dihilangkan. Tapi itu tidak mudah sebagaimana dikisahkan Iyas:
Suatu hari Rasulullah bersabda: ‘janganlah kamu memukul perempuan-perempuan hamba Allah”’. Kemudian Umar datang: ‘Ya Rasul, jika perempuan tidak dipukul nanti melawan suaminya. Tolong ijinkan kami boleh memukul perempuan”’ Menanggapi jawaban Umar, Nabi diam saja.”
Setelah peristiwa itu, ternyata perempuan masih sering dipukuli lelaki. Pada suatu malam tiba-tiba Nabi didatangi 70 perempuan. Mereka melaporkan telah dipukuli suaminya. Lalu Nabi berpidato:
Sungguh telah datang perempuan yang banyak sekali, mereka melaporkan perihal suaminya, orang yang memukuli istrinya bukanlah orang baik-baik”. (HR. Abu Dawud: 2146 dan Ibn Majah: 1985)
Islam sesungguhnya datang untuk membebaskan, menebarkan kedamaian bagi lelaki dan perempuan. Karenanya, sudah seharusnya sebagai umat Islam kita wajib bergandengan tangan memerangi perilaku kekerasan.
Dalam konteks kenegaraan, Indonesia sudah meratifikasi konvensi CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) tahun 1984, yang mendorong lahirnya UU No. 7 tahun 1984 tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Demikian juga, Konvensi Hak Anak (KHA) dan UU Perlindungan Anak tahun 2002. UU No. 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga, juga telah ada. Kebijakan-kebijakan Nasional dan Internasional yang selaras dengan ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin ini kiranya cukup menjadi azas utama. Sebab tak semestinya perempuan dijadikan obyek kekerasan.
Semoga ini lebih memudahkan kita berjuang menghentikan kekerasan terhadap perempuan. Bukankah ibu kita adalah perempuan?
Oleh: Ulfa M. Hizma
Referensi: 
•    Pemuliaan Perempuan dalam Islam dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dalam http://kajianmuslimah.wordpress.com
•    KH. Husein M., seri Tadarus II Jawa Barat: Program Penguatan Hak-hak Perempuan Melalui Pemimpin Keagamaan Lokal tema Keislaman, Globalisasi dalam perspektif Analisa Sosial, Rahima Jakarta, 6-8 Juni 2008
•    Inne Silviane, Titik Ismuningrum, Kekerasan terhadap Perempuan & Anak, PKBI Jakarta, April 2007

Comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori