Oleh: Terompah | 7 November 2011

Suweg Bisa Jadi Makanan Kelas Satu

Orang desa pasti tahu apa itu “Suweg.” Namun kebanyakan dari mereka cuma tahu sebatas itu adalah salah satu umbi-umbian. Kebanyakan orangpun kemungkinan punya perspektif yang sama, seakan-akan itu adalah umbi-umbian biasa dan kadang oleh sebagian orang dipandang sebelah mata. Namun siapa sangka kalau suweg ini memiliki kandungan karbohidrat yang bagus dan cocok digunakan untuk diet. Bisa juga sebagai pengganti terigu.

*****
 

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini sedang mengembangkan suweg sebagai alternatif bahan pangan. Demikian diungkapkan Dra Yuzammi MSc dari Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor. Suweg (Ammorphophallus paeonifolius) adalah jenis tanaman talas-talasan. Umbi, bagian cadangan makanan yang ada di dalam tanah serupa pada ubi jalar, bisa diolah menjadi tepung.

“Suweg ini bagus sekali kandungan karbohidratnya dan cocok digunakan untuk diet. Bisa juga sebagai pengganti terigu,” ungkap Yuzammi yang ditemui di acara LIPI Expo di Jakarta, Senin (7/11/2011).

Selama ini, suweg telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bahan pangan. Namun  masih sebatas alternatif ketika beras atau tepung tidak tersedia atau kurang terjangkau harganya. Ini disayangkan. Pasalnya, suweg memiliki kadar serat yang tinggi sehingga bisa menjadi pengganti oatmeal. Kandungan karbohidrat pada suweg juga tinggi, mencapai 80 persen.

“Karena itu, kami mengembangkan. Jadi, suweg yang tadinya menjadi makanan terpinggirkan bisa menjadi makanan kelas satu yang bisa dikonsumsi semua kalangan,” cetus Yuzammi.

Fokus utama pengembangan suweg oleh LIPI saat ini adalah perbanyakan. Umumnya, masyarakat memperbanyak suweg secara konvensional. LIPI mencoba beragam cara untuk memperbanyak suweg dengan cepat.

“Ini karena keterbatasannya nanti adalah stok. Kalau kami mau bicara produksi massal tteapi materialnya tidak ada, ya susah kan. Makanya, kami coba teknik perbanyakan yang cepat,” jelas Yuzammi.

Selain itu, LIPI juga fokus mencari varietas yang unggul. “Kami sudah screening dan menemukan empat variasi yang unggul. Dari empat ini nanti akan diseleksi lagi untuk mendapatkan satu yang unggul.”

Keunggulan variasi, menurut Yuzmmi, dinilai dari kemampuan untuk diperbanyak, kandungan nutrisi, dan kandungan kalsium oksalat. Senyawa kalsium oksalat yang tinggi menyebabkan rasa gatal ketika dimakan.

Dari beberapa varietas yang dikembangkan saat ini, satu di antaranya telah diolah menjadi tepung dan dijadikan biskuit. Yuzammi mengatakan, hasil olahan ketika dimakan sudah tidak menimbulkan rasa gatal.

Pengembangan suweg ini dalam dua tahun ke depan ditargetkan bisa mendapatkan varietas satu unggulan yang siap diolah dan teknik perbanyakan yang paling tepat untuk memperoleh stok banyak secara cepat.

Source: kompas.com


Responses

  1. semoga terrealisasikan dengan baik

  2. Aduh, saya suka banget gaya berpikir dan menulisnya kang Kyai Cengkir (boleh kan panggil Akang hehehe?)
    Apalagi posting Suweg ini, mirip-miriplah sama cita-cita saya yang kepingin Indonesia mengekspor Keluwek dan buah Siwalan (Atap) ke seluruh dunia. Dan mreka jadi special delicacy-nya dunia kuliner Internasional kayak Jamur truffle gitu ….
    Thanks dah follow blog saya ya.
    Salam
    Mayang


Comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori