Oleh: Terompah | 5 November 2011

Ibrahim & Tuhan yang Dialogis

Dialog bukan hanya dengan sesama manusia, dengan Tuhan pun, kita juga berdialog. Tuhan juga komunikatif sebagaimana yang tertera pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an. Sebagai contoh adalah dialog antara nabi Ibrahim as. dan Tuhan. Bagaimana memahami dan seperti apa, dialog Tuhan dengan manusia (seperti kisah Nabi Ibrahim as.). Setidaknya ini tergambar dari tulisan  Syarif Hidayat Santoso* yang di muat dalam okezone.com di bawah ini.

*****

detail berita

HAJI adalah semangat meneladani Ibrahim. Semangat Ibrahim pada dasarnya terdiri dari semangat pencarian kebenaran yang dialogis. Ibrahimpun merupakan pencerminan seorang nabi dialogis dalam relasinya dengan Tuhan dan kebenaran.

Selain berdialog dengan bapaknya (QS Ash Shaffaat 85), kaumnya (QS Al Anbiya’ 58-67), Nabi Ismail (QS Ash Shaffaat 102), Raja Namrudz (QS Al Baqarah 258), dan fenomena alam semesta (QS Al An’aam75-79), Ibrahim juga berdialog dengan Tuhan bukan dalam tipe seorang mistikus ala kaum sufi tapi mirip dengan rasionalitas muktazilah (QS Al Baqarah 260).

Ibrahimpun juga mempraktekkan pencarian kebenaran itu di lokasi-lokasi yang tidak sama. Lahir dan besar di Babilon, hijrah ke Palestina dan Mesir kemudian membangun universalitas kemanusiaan melalui haji di Makkah.

Dalam sebuah ayat, Ibrahim berdialog manis dengan Tuhan “Wahai Robbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana cara engkau menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati.” Allah menjawab, “Apakah kamu belum percaya?” Ibrahim menjawab,”Bukan aku tidak percaya tetapi agar bertambah mantap hati saya.” (QS Al Baqarah 260).

Perhatikanlah dialog Tuhan dengan Ibrahim di atas. Terdapat pertanyaan Tuhan yang sangat konstruktif dan mencerahkan bagi keberagamaan kita. Tuhan berkata pada Ibrahim “Qoola awalam tu’min (apakah kamu belum percaya?”.

Sebuah pertanyaan yang unik, karena jelas Tuhan kita adalah Tuhan yang Maha Tahu yang tak membutuhkan pertanyaan dalam menyingkap sebuah kebenaran. Pertanyaan serupa juga pernah ditanyakan kepada Musa dalam Alquran Surat Taha ayat 17 “Wa maa tilka biyaminika ya Musa (apa itu yang di tangan kananmu hai Musa?”.

Dalam sebuah hadits juga disebutkan pertanyaan Allah kepada Adam “Ya Adam, wakaifa arafta Muhammadan walam ukhlakhu (wahai Adam, bagaimana engkau mengetahui Muhammad sedang aku belum menciptakannya)”.

Cerminan pertanyaan di atas menunjukkan betapa Tuhan sangat dialogis. Meskipun Maha Tahu, tapi Tuhan tidak bersifat otoriter. Tuhan kita toleran terhadap kondisi makhluk ciptaannya sendiri. Tuhan kita mau mendudukkan dirinya egaliter dengan manusia. Inilah toleransi teologis yang sangat menarik. Toleransi yang dibangun oleh semangat dialogis yang flamboyan dan rendah hati.

Toleransi dan kerendahhatian adalah semangat mendasar agama Islam yang juga menjadi fenomena wacana ketuhanan paling subtil. Sudah mafhum dalam teologi Islam bahwa Tuhan adalah kam munfashil, suatu zat yang tak memiliki kemiripan dengan apapun di alam semesta.

Dalam bahasa Kifayatul Awam, Allah adalah esa dalam zat, sifat, dan perbuatannya. Tak mungkin Allah memiliki sifat sama dengan makhluknya. Allah dalam Islam adalah Allah yang Maha Tahu, tapi meskipun Maha Tahu Allah masih menyempatkan untuk berdialog dengan sebuah pertanyaan kepada Ibrahim dan Musa.

Bahkan bahasa dialog ini menghiasi banyak ayat dalam Quran, bukan saja kepada para nabi tapi pada kita. Ketika Tuhan bertanya kepada makhluknya, itulah simbol dialogisme dan kerendah hatian. Allah tak perlu secara arogan memerintahkan kepada manusia dalam afirmasi yang komandois semata. Bahkan Allahpun masih membuka dialog pada peristiwa sakral tertinggi yaitu Isra’ mi’raj  secara tak langsung dengan Musa yang dilakukan melalui nabi Muhammad. Lobi langit luar biasa ini menghasilkan jumlah salat wajib yang hanya lima kali sehari.

Tapi Tuhan tak hanya berdialog dengan para nabi. Tuhan berdialog dengan semua manusia. Toshihiko Izutsu menjelaskan komunikasi Tuhan dalam bentuk wahyu dan doa yang memiliki respons derivasif iman dan istijabah. Ibadah haji pada dasarnya juga bentuk perwujudan dialog dari manusia yang mengharapkan terkabulnya doa-doa mereka di tempat-tempat atau momen yang diyakini istijabah.

Sufismepun mengenal konsep Allah yang bertanazul (turun) dan manusia yang bertaraqi (naik) guna mencapai kekariban tertinggi. Bahkan, tanazul Tuhan menurut Ibnu Arabi  bukan saja berbentuk wahyu namun berbentuk alam mitsal (ide berpikir). Sebuah konsep yang mengagumkan karena menganggap proses dan hasil berpikir manusia berkait dengan formulasi teologi.

Konsep ini pada gilirannya akan menciptakan apresiasi terhadap pluralitas dan kreatifitas. Ternyata, monoteisme Islam adalah monoteisme yang tak arogan, tapi monoteisme yang ramah dan komunikatif.

Semangat dialogis adalah semangat yang perlu dikembangkan di negeri ini. Ekslusifisme dan mentalitas monolitik-monopolistik seakan telah menggurita di negeri ini. Banyak orang merasa paling benar sendiri dan tak perlu berdialog dengan beragam segmen dalam hidup bersama. Seakan-akan ketertutupan telah menjadi sikap memfosil yang sulit dilepaskan dari hidup keberagamaan.

Dialogisme bukan berarti menggugat namun juga berarti upaya menggapai kemantapan hati seperti Ibrahim ketika ditanya Tuhan apakah Ibrahim belum percaya atas kebangkitan hidup sesudah mati. Ibrahim hanya menjawab bahwa hal itu dilakukannya untuk mencapai kematangan hati yang mantap atas iman yang sebenarnya sudah sangat kuat.

Sebenarnya kita hanya perlu kemantapan hati untuk hidup yang beradab dan damai di negeri ini. Karena keyakinan akan kebersamaan telah hadir sejak bangsa ini dibangun. Keyakinan tentang keragaman juga hadir bukan saja dalam memori kolektif anak bangsa tapi melekat kuat dalam kitab suci sebagaimana dijelaskan Alquran Surat Al Hujuraat ayat 13 “Hai manusia kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling bertaaruf (saling kenal mengenal).”

Ibadah hajipun juga membawa spirit ta’aruf  internasional yang menarik. Ibadah haji memberi kesempatan kaum muslim sedunia untuk berdialog secara horizontal satu sama lain dalam suasana egaliterianisme. Inilah sebenarnya salah satu spirit haji terpenting yang sering terlupa dan terhapus oleh egoisme dan nasionalisme sempit. Lha, kalau Tuhan saja berdialog kenapa kita tidak?

*Syarif Hidayat Santoso. Alumnus Hubungan Internasional FISIP UNEJ. Bekerja di bawah naungan Kementerian Agama Sumenep.

Source: okezone.com


Comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori