Oleh: Terompah | 19 Oktober 2011

Kenduri Para Tuhan dari Balik Jeruji

pada panggung;
menyorot dengan tajamnya sebuah focus lamp pada podium
pada ruangan;
berbagai atribut berwarna biru tersebar dengan meriahnya
pada tiap pintu dan pojok ruangan
orang-orang berambut cepak bermata liar berseliweran dengan kewaspadaan pada sikapnya

(prolog); narasi dari behind the stage;
…………………inilah kisah para tuhan yang sedang berasyik masyuk menyelenggarakan sebuah pertemuan yang kali ini diberikan tajuk “kenduri para tuhan  dari balik jeruji”

kepada sodara-sodara tuhan,

puji syukur kepada saya sebagai mahatuhan dikarenakan tuhan-tuhan pada malam yang indah ini semuanya telah lengkap berkumpul di sini. maka, saya selaku pemimpin tertinggi organisasi tuhan merasa bahagia. mantap!

wow, di kiri-kanan saya rupanya sudah hadir juga wakil-wakil saya yang setia sampai akhir hayat. ada tuhan bendono, tuhan perekonomian, tuhan hankam dan tuhan besan saya. Baiklah untuk mempersingkat waktu saya persilahkan sodara tuhan-tuhan memperkenalkan diri satu persatu secara singkat, padat dan berisi.

“kesempatan pertama saya berikan kepada sodara tuhan satu”

tuhan satu: “terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepadaku. perkenalkan, namaku tuhan satu. aktifitasku sehari-harinya adalah mengatur dan mengendalikan sistem penjatahan pada anggaran dewan perwakilan tuhan, dan tuhan-tuhan yang melekat pada tuhan di partai-partai, bepeka, mahkamah ageng, kejaksaan dlsbnya. karena, akulah tuhan kalian yang sesungguhnya”

“oke, oke, bisa diterima. selanjutnya saya persilahkan kepada sodara tuhan dua”

tuhan dua: “tanpa basa-basi sayalah yang mengatur sistem kalian semua disini. sebab saya bersama-sama tuhan mafia berlindung dipakaian dalam tuhan istana yang siap setiap saat 1 x 24 jam diatur untuk mengatur kalian semua”

“hm, ya ya ya……nanti kita diskusikan. selanjutnya sodara tuhan tiga”

tuhan tiga: “hahahaha, sayalah tuhan yang berlindung diberbagai lembaga hukum. hahahaha sayalah yang mengatur lalu lintas perkara hahahaha.

“sip, siiippp!…..singkat dan padat. saya lanjut ke sodara tuhan empat”

tuhan empat: “saja toehan ampat memiliki hak jang tidak terbantahkan. baik dalam tata krama maoepoen sopan santoen ketika membangoen opini poeblik hal-hal jang berhoeboengan dengan pentjitraan sodara toehankoe jang moelija”

“wah, wahhhh terima kasih. sodara tuhan empat memang patut dibanggaken. selanjutnya, tuhan lima”

tuhan lima (garuk-garuk kepala): “maaf, saya rada bingung mesti mulai dari mana. sebab telepon dari tuhan yang mulia belum saya terima”

“hayyyyaaa, saya sebagai tuhanmu kembali bertanya kepada sodara tuhan lima. apakah sodara sudah memberikan setoran wajib atau belum ya?”

tuhan lima (rada gugup): “mmmmmaaff…k..k….kalau mmmbegitu saya minta waktu sebentar be-be-eman sama isteri saya dan pengurus partai saya dulu tuhan yang mulia”

“baiklah saya tunggu kabar baik…..jangan sampai lewat dari enam jam ya? selanjutnya tuhan enam”

tak ada sahutan dari tuhan enam.

“sekali lagi saya panggil. tuhan enam!” masih tak ada sahutan dan kelihatannya kekesalan si tuhan yang mulia sudah naik keubun-ubun.

“juru bicaraaaaa…..segera cari tuhan enam sekarang juga!”

juru bicara: “be be b baik tuhan yang mulya. ssssssaya sudah telpon tuhan enam katanya dia sedang konfrensi pers dipelataran gedung kapeka sekaligus mengatur siapa saja yang perlu dan mau jadi tumbal dalam tempo yang sesingkat-singkatnya untuk nginap di hotel prodeo”

“sontoloyo!”
“tuhan tujuh, tuhan delapan, tuhan sembilan sampai tuhan tigabelas saya minta maju sekarang juga!”

dari floor tak ada sahutan. hening

“gubraakkkk!” tiba-tiba saja sang mahatuhan menggebrak podium didepannya

“hwarakadaahhhhhh,..benar-benar sontoloyo!”
“juru bicaraaaaaaaa……kemana mereka para tuhan-tuhan sialan itu, hah?!”

juru bicara: “sssssaya mau laporan tuhan yang mulia”

“silahken, jangan berikan laporan asal bunyi!”

juru bicara: “i i iyyyaaa tuhan yang mulia. ttttuhan tujuh sedang mengurus tambangnya di freeport; te te tttttuhan delapan sedang mengurus hutan lindung olahannya di kalimantan, sumatera, papua dan papua barat; tuhan sem sem semmmmbilan sedang mengurus ja ja jajalur perhubungan dan ongkos n n nnnaik haji”

“bicara yang jelas!”

juru bicara: “s ss s siap tuhan yang mulia. mmmmmasalahnya tuhan ja ja jaj…jangan mmmarah-marah gitu dong ah k k k….kita khan friend. iya khan bos tuhan?!”

sambil mengelus-elus pipinya yang tembem: “baiklah, saya sebagai maha tuhanmu bisa memaklumi kedunguanmu sebagai juru bicara. lanjutkan!”

dengan muka yang memerah seperti tomat gosong sambil menarik nafas sedalam-dalamnya si juru bicara melanjutkan laporannya. “tuhan sepuluh sedang mengurus isteri mudanya dan mengatur pertemuan dengan semua pemilik jaringan perampok pulsa diseluruh indonesia, katanya”

“tuntaskan!”

“siap tuhan yang mulia….tuhan sebelas sedang mengurus tanah-tanah garapannya di jawa, bali dan nusa tenggara timur dan barat serta sulawesi dan wilayah perbatasan serta mengatur keuntungan harga bahan bakar minyak, katanya”

“tuntaskan!”

“sabar tuhan yang mulia……tuhan duabelas sedang pelesiran keluar negeri bersama tuan wong fei hung. kalau tidak salah mereka berdua sedang studi banding mengenai cara meningkatkan pendapatan pribadi tuhan yang mulia melalui bisnis perjudian”

“cepetan ngomongnya. langsung tuntaskan ke tuhan tigabelas!”

juru bicara: “siaaaap!….tuhan tigabelas sampai saat ini tidak ada kabar beritanya tuhanku yang mulia”

tiba-tiba saja dari luar kenduri kerangkeng para tuhan terdengar suara yang sangat berisik. rupanya tuhan tigabelas sedang berapi-api pada permainan kata-katanya pada “aku tuhan tigabelas”

akulah tuhan tigabelas
aku datang dari tong sampah dan selokan-selokan kota
aku lahir dari sarang para penyamun
aku pemain ketoprak mataram
 

“brenti….brentiiiii!” sang mahatuhan berteriak dengan gusarnya.
“sekarang saya tanya kepada kalian semua para tuhan-tuhan yang hadir di sini. kenapa semakin banyak orang-orang berdemonstrasi menolak kedatangan saya hah?!”

secara serentak dari floor terdengar paduan suara dari para tuhan-tuhan
“karena sodara tuhan yang mulia sudah tidak di-ingin-kan jadi mahatuhan lagi!”

“hwarakadaaaaahhh….sontoloyo. diam!!!!”

tiba-tiba lampu didalam kerangkeng kenduri para tuhan itu padam. terdengar lontaran caci maki disana-sini yang tak berujung pangkal dari mulut para tuhan-tuhan diruangan itu.

“juru bicaraaaaaaa, segera nyalakan lampunya!” si tuhan yang mulia berteriak gusar

juru bicara: “m m m maaaafffff tuhan yang mulia listriknya mati karena nunggak pembayaran listrik selama tiga tahun.

“sontoloyo!!!”

serambi sentul 17/10/2011
arrie boediman la ede

129818307431393609

—————————————————–
(narasi) epilog;
ketika tuhan menyamar dalam diri manusia. maka TUHAN yang sesungguhnya menjadi tidak berarti apa-apa lagi. TUHAN itu tidak pernah ada bagi mereka. jika sebelumnya mereka kerasukan setan maka kali ini mereka kerasukan tuhan….sekerasukan-kerasukannya tuhan. tuhan pada handphone, blackberry, mobil mewah, korupsi, kolusi, nepotisme; lagi-lagi masalah harta, tahta, dan wanita. dan itulah tuhan mereka. merekapun semakin sering menepuk dada sekeras-kerasnya sambil memberikan nama terhadap diri mereka sebagai mahapengatur mati hidup rakyatnya. bagi mereka suara setan adalah suara tuhan sebab merekalah tuhan-tuhan dan setan-setan yang sedang menyamar pada harkat dan martabat kemanusiaannya yang semakin tak ada harganya. begitulah!

[Oleh: Arrie Boediman La Ede dalam kompasiana]


Comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori