Oleh: Terompah | 29 September 2011

Kontekstualisasi Makna Jihad

Kalau orang yang benar-benar cinta terhadap Islam, mereka akan tahu bahwa agama tersebut melarang tindak kekerasan, dan hanya mengijinkannya untuk mempertahankan diri jika mereka diusir dari rumah mereka (idzâ ukhrijû min diyârihim).” ( Gus Dur)

Pada prinsipnya, jihad dalam doktrin Islam lebih dekat dengan pengertian etis dan spiritual, berjuang sungguh-sungguh dalam segala hal yang mengandung kebaikan. Namun, makna tersebut sering disalahpahami, baik oleh kalangan non-Islam maupun internal umat Islam sendiri. Bagi kalangan non-Islam, jihad dinilai sebagai ajaran Islam yang memproduksi aksi kekerasan dan teror demi memaksakan pandangannya kepada orang lain. Sehingga muncul stigma bahwa Islam adalah agama teroris, gemar melakukan kekerasan, intoleran, dan lain-lain.

Stigma miring tersebut diperkuat oleh sejumlah kelompok Islam radikal yang memang memahami jihad sebagai perang melawan musuh-musuh Islam dengan menghalalkan aksi kekerasan (semisal bom bunuh diri) sebagai instrumen pelengkapnya. Di tangan mereka, makna Jihad direduksi dan disamakan dengan perang. Padahal di dalam Alquran disebutkan bahwa Jihad dan perang (qitaal) adalah dua istilah yang berbeda. “Perang” dalam Alquran itu memiliki istilah sendiri yang lebih spesifik, yakni qitaal. Ayat-ayat  perang yang sering diasosiasikan dengan jihad adalah ayat “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka(al-Hajj : 39),  “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (al-Baqarah : 190)”.

Ayat-ayat tersebut turun saat periode Madinah, dimana memang diwarnai peperangan. Karena Nabi dan para sahabatnya pada waktu itu mendapat tekanan sehingga perang fisik tidak dapat dihindarkan. Perang fisik di sini pun dalam konteks defensif bukan ofensif. Jadi ayat perang tersebut sangat situasional, sehingga tidak bisa diterapkan dalam konteks di mana umat Islam dijamin keamanannya serta dilindungi hak-hak dasarnya. Dalam periode ini, hadis-hadis Nabi yang berpotensi memerintahkan peperangan juga mudah dijumpai. Semisal hadis riwayat Bukhari “Ketahuilah sesungguhnya surga (terletak) di bawah kilatan pedang (al-jannah tahta dzilaal al-suyuuf).” Boleh jadi, Aksi bom bunuh diri di Cirebon pada pertengahan April lalu adalah ekspresi dan aktualisasi dari pemahaman yang salah bahwa jihad adalah perang. Pertanyaannya kemudian, benarkah Jihad dalam Islam identik dengan kekerasan dan perang sebagaimana yang diyakini para teroris?

Tentu jawabnya tidak, Islam adalah agama yang cinta damai dan melarang tindak kekerasan. Islam memberikan banyak alternatif terhadap makna jihad. Jihad jangan dipahami secara dangkal agar paras cantik Islam yang damai tidak terkotori oleh tindakan umat Islam sendiri. Karena jihad merupakan prinsip yang tidak terbatas pada aplikasi tunggal, semisal perang.

Menurut Khalid Abou el-Fadl dalam “Jihad Gone Wrong”, jihad sangat jauh berbeda dengan bom bunuh diri dan perang. Perang merupakan sesuatu yang buruk, atau hal buruk yang terpaksa dilakukan dan karenanya sebisa mungkin harus dihindari oleh umat Islam. Perang hanya diperbolehkan dalam konteks melepaskan diri dari tirani atau untuk membela diri dari serangan (self-defence). Nabi sendiri menilai bahwa perang Badar adalah sebagai jihad kecil, justru jihad yang lebih besar adalah perang melawan hawa nafsu. Seperti hadis Hadis riwayat al-Daylami dari Abu Dzar Al-Ghifari, “Sebaik-baiknya jihad adalah berjuang melawan hawa nafsu karena Allah”. Hadis-hadis sejenis inilah yang semestinya diamalkan dan dijadikan pegangan agar Islam terlihat damai.

Konsepsi Jihad non-perang dan nir-kekerasan mendapatkan legitimasinya dalam Alquran seperti pada ayat “Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (al-Nahl : 110). Juga dalam ayat “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (al-‘Ankabut : 69). Begitupun dalam ayat “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur’an dengan jihad yang besar” (al-Furqan : 52). Ayat-ayat tersebut turun dalam periode Makkah di mana tidak pernah terjadi peperangan. Jadi sangat mustahil jika istilah Jihad diasosiasikan dengan perang. Dalam periode ini, jihad lebih digunakan dalam pengertian etis dan spiritual.

Dalam konteks Indonesia, makna jihad sangat tidak relevan bila dimonopoli sebagai seruan perang melawan musuh-musuh Islam serta untuk melakukan penyeragaman pandangan keagamaan. Saat ini, jihad semestinya dimaknai sebagai jihad untuk membumikan kesadaran  akan hakikat pluralitas. Kesadaran itu meniscayakan adanya keterlibatan aktif terhadap pluralitas, dan bukan sekedar mengakui pluralitas (kemajemukan). Kesadaran akan hakikat pluralitas juga mewajibkan adanya kesediaan berlaku adil atas dasar perdamaian dan toleransi, tidak hanya sekedar mengakui hak kelompok agama lain. Dengan konsep jihad seperti ini, kehidupan beragama di Indonesia tentu menjadi kondusif dan kekerasan terhadap kelompok minoritas tidak akan terjadi. (Oleh Noor Rahman, aktivis Piramida Circle). [rahima.or.id]


Comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori