Oleh: Terompah | 25 Agustus 2011

Gender Equality dan Hermeneutika Fenomenologi

Oleh Tohirin El-Ashry

Cara pandang Subyek-Obyek terhadap alam terbukti berdampak negatif, malah cenderung eksploitatif. Sejak Rene Descartes (1596-1650) memproklamirkan  cogito ergo sum-nya  manusia begitu bangga dengan rasionya dan menjadikannya  merasa sebagai penentu realitas. Alam adalah obyek yang harus dimanfaatkan bahkan kalau perlu dieksploitasi untuk segala macam kepentingan manusia (human interest).

Inilah babak baru dimulainya era modern yang mendewa-dewakan empirisme-mekanik  dengan asumsi bebas inilah (falue-free). Sedianya asumsi ini dihadirkan untuk menjaga jarak netral dari segala macam pretensi dalam rangka meraih obyektifitas. Namun pada perjalanannya, asumsi ini justru menjadi senjata makan tuan.

Asumsi falue free justru menjadi ilmu pengetahuan dengan mudah dapat dimanipulasi ke dalam berbagai nilai dan kepentingan atau malah meneguhkan status quo. Inilah salah satu kritik yang dilancarkan oleh Haber Mas, salah seorang filosof dari mazhab Frank Frurt (Listiono dkk, 2006).

Modernisme menjadi idiologi baru dengan asumsi kebenaran monolitik universal. Tujuan ilmu pengetahuan yang pada awalnya untuk mencari kearifan dengan memahami kearifan alam dan demi keagunganNya atau seperti ungkapan Cina untuk mengikuti tatanan Tuhan dan mengalir dari Tao, diubah hanya sekedar untuk mengendalikan dan menguasai alam dan sama sekali antiekologis.

Pencemaran kimiawi, polusi, kerusakan lingkungan, perang, stress, ketimpangan sosial, dan krisis moral adalah salah satu buah dari paradigma ini (fritjof Capra, 2000). Jika cara pandang dikotomi subyek-obyek semacam ini terbukti merugikan alam. Bagaimana jika diberlakukan bagi manusia?

Relasi Paradoks
Struktur sosilogis masyarakat kita sebenarnya tidak-sepenuhnya-patrikhal. Kendati laki-laki masih menempati posisi dominan dalam masyarakat, namun disana-sini masih terlihat adanya pembagian kerja yang setara antara laki-laki dan perempuan. Tak jarang diantara kaum perempuan yang menempati pos-pos kerja yang diasumsikan sebagai wilayah kerja laki-laki. Tak jarang para wanita yang justru bekerja menjadi penopang nafkah keluarga.

Hal ini agaknya bersesuaian dengan ranah budaya jawa, dimana ketika seorang pasangan suami-isteri melakukan pernikahan kontrak yang dipakai adalah konsep kebersamaan dan kesetaraan yang sering disebut dengan”brayan” maksudnya kurang lebih suami-isteri mempunyai porsi yang sama dalam keluarga. Satu sama lain berkewajiban  saling membantu dan meringankan beban satu sama lain.

Dalam masyarakat kita sudah sangat familiar sebuah pepatah ;ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Malah maksud yang sama, pada ranah kenegaraan, funding father negeri ini Sukarno mencetuskan konsep”gotong royong”. Konsep ini tak lain dan tak bukan prinsip kesetaraan (equality) itu sendiri.

Tapi semua prinsip ini serupa suara sengau yang intonasinya sama sekali tak berimbang. Jangankan merdu semuanya terkadang hanya sebatas jargon tanpa isi. Persepsi masyarakat kita masih memandang sebelah mata terhadap perempuan. Perempuan masih dipandang sebagai makhluk kelas dua (the second class) sekaligus menjadi obyek laki-laki.

Setereotype yang terlanjur berkembang bahwasanya laki-laki adalah the self (baca : makhluk utama) dan wanita adalah the other (baca : makhluk kedua). Laki-laki adalah kepala rumah tangga yang berhak mengatur. Sedangkan perempuan sebagai pihak yang harus diatur dan ‘sungkem’ kepada suaminya.

Ini adalah relasi timpang dimana pihak laki-laki bertindak sebagai hegemoni dan pihak perempuan sebagai sub ordinat. Istilah rencang wingking (teman belakang) masih belum sepenuhnya luntur dari masyarakat kita. Tugas perempuan masih diidentikkan dengan macak, manak, masak, atau kasur dapur sumur. Prinsip brayen sering kali di plintir oleh sang suami dengan maksud agar sang isteri dengan suka rela membantu pekerjaannya. Tapi sayangnya tidak harus berlaku kebalikan.

Akibatnya perempuan sering mempunyai tugas ganda. Dari urusan domestik sampai urusan publik. Bayangkan, dalam masyarakat petani pedesaan, seorang isteri sejak bangun tidur harus mulai menyiapkan sarapan, mengurus anak dan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Sementara sang suami santai-santai menyeruput teh manis sambil menunggu sarapan pagi dan menunggu jam kerja.

Setelah capai kerja didapur, ternyata sang isteri harus bersama-sama suaminya pergi ke sawah. Ini jelas tidak adil. Celakanya, kebiasaan ini dianggap angin lalu saja, malah menjadi semacam doktrin yang tabu untuk diganggu gugat.

Ketaatan isteri seringkali diasumsikan sebagai ketaatan yang sudah semestinya dan akan mendapat imbalan surga. Akibatnya, pihak perempuan tak menyadari bahwa dirinya berposisi sebagai pihak yang ter (di) jajah. Mereka terasing (teralienasi) dari kesadarannya yang sesungguhnya.

Fenomenologi
Posisi subyek-obyek semacam inilah ditentang oleh Martin Heideggar (1889) sampai (1976) filsafat fenomenologinya ingin melaraskan hubungan antara manusia dan alam. Hubungan antara manusia dan alam baginya bukan hubungan subyek dan obyek. Manusia (desain) adalah makhluk secara taken for grented terlibat dalam dunianya (being-already-in-the-world) perjumpaan manusia dengan dunianya adalah perjumpaan penghayatan makna (umwelt), perjumpaan yang hangat dan tak berjarak (exsistenz) jika relasi subyek-obyek antara manusia dan alam saja ditentang oleh Heidegger maka bagaimana hubungan manusia antar manusia. Relasi subyek-obyek yang terjadi antara laki-laki dan perempuan tentu sangat bertentangan dengan filsafat ini. Manusia terlepas dari jenis kelaminya tak bisa diberlakukan sebagai layaknya benda-benda. Manusia adalah tujuan bagi dirinya sendiri (fursorgen).

Hermenutika fenomenologi adalah hermenutika yang melepaskan diri dari polarisasi subyek-obyek ini. Penafsir adalah pihak yang sama sekali yang tidak netral. Manusia, kendati mempunyai kehendak bebas dan pilihan-pilihan tertentu, tapi tetap saja ia tak dapat keluar dari ranah kesejarahannya. Karena alasan inilah Heideggar membentuknya sebagai desain ; makhluk sejarah.

Hermeneutika Heideggarian ini kiranya sangat tepat jika kita jadikan alat baca gender. Visi heremeneutika adalah untuk menghancurkan relasi timpang subyek-obyek antara laki-laki dan perempuan.  Dalam tradisi penafsiran kitab suci, tafsir ini akan berlawanan dengan tafsir mainstream yang cenderung misoginis.

Tafsir yang terakhir ini disebabkan diantaranya karena penafsir (interpreter) melihat teks secara letteral  sebagaimana sains  modern memandang realitas sebagai tumpukan fakta-fakta. Padahal menafsir adalah mencari makna diantara bunyi teks. Modernisme seharusnya mengubah cara pandangnya terhadap alam ke arah yang ramah dengan menghayati kebermaknaan seluruh jalinan makna-makna dari fakta-fakta tersebut.

Penafsir kitab suci harus mengubah cara pandangnya terhadap teks dengan cara mencari jalinan relasi visi dan makna yang terkandung didalamnya. Hal yang tak boleh dilupakan bahwasanya penafsir adalah desain. Makhluk sejarah cara pandangnya sangat dipengaruhi faktor sosio-historis yang meliputinya.

Pengalaman sejarah dan struktur baru yang berbeda-beda tentunya akan melahirkan tafsir yang berbeda-beda. Tapi visinya harus tetap sama ; keadilan sosial (social justice) dan kesetaraan (equality). [www.rahima.or.id]


Comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori